RSS

Cinta Suci Untuknya

Sunyi dalam kesendirian yang tak tahu kapankah ini kan berakhir

Ketika raga begitu rapuh tak berdaya menghadapi makhluk-Nya

Termenung disudut ruang kosong menanti sebuah jawaban

Yang tak pernah satu insan pun tahu…..

 

Kala tangis tak lagi dapat merasakan indah mengingat-Nya

Menangisi hati yang tak dapat khusyu bermunajat pada-Nya

Sosok yang kala itu begitu kokoh berdiri tertunduk pada-Nya

Kini ia begitu tak berdaya dan rapuh….

 

Kala senja mulai hadir menghampirinya

Ia menangis di kegelapan malam dimabuk rindu pada-Nya

Kini…. saat senja kembali menghampirinya

Ia menangis di dalam pekatnya malam dimabuk rindu pada makhluk-Nya

 

Mungkin Allah tengah menguji dirinya

Menguji betapa besar kejujuran cintanya

Cinta hakiki yang dianugerahkan oleh-Nya untuk setiap makhluk-Nya

Yang sejak dulu hingga kini menghiasi hidupnya

 

Kala godaan itu tak lagi seringan dulu

Kala shaum tak lagi sanggup mengobatinya

Maka mengembalikan kepada-Nya menjadi kunci terakhir

Mengobati rasa rindunya…..

 

Ketika rasa itu begitu menyesakkan dada

Ketika dirinya merasa siap tuk menjalaninya

Namun ridho-Nya belum menghampirinya

Maka sabar menjadi kunci baginya…..

 

Yaa…. Mungkin Allah sedang mengujinya

Menyiapkan kado terindah bagi dirinya

Yang didamba oleh setiap makhluknya

Wanita sholihah penyejuk mata hatinya

 

Kini hanya kalimat dzikir yang menjadi pengokoh hatinya

Mengingat pada-Nya menjadikan dirinya begitu kuat

Menghadapi makhluk nan indah yang Allah ciptakan untuknya

Entah sampai kapan ia kan terus seperti ini

 

Yang ia tahu bahwa ia diciptakan bersama teman hidupnya

Teman hidup yang tak pernah tahu kapan ia kan menemuinya….

Tak pernah tahu kapan ia kan menjemputnya….

Tak pernah tahu kapan ia kan bersamanya….

 

Mereka hanya bisa terus bersiap…..bersiap…. dan bersiap….

Hingga keduanya siap tuk dipertemukana oleh-Nya

Dalam sebuah ikatan cinta nan suci

Yang tak pernah mereka berikan kepada siapapun

Kecuali cinta mereka pada Tuahannya

 

By: ARH

 

Posted by on November 5, 2013 in Catatan Ku

Leave a comment

Titipan Indah Dirimu

EmakBahkan tak satu pun foto dirimu ku miliki….

Tak satu pun foto dirimu yang ku simpan dalam saku atau dompet ku…

Yang ku punya hanya memori cinta yang terus terkenang dalam setiap lelahku… menjalani hidup bersama seorang wanita yang kau titipkan untuk ku….

Yang ku punya hanya kenangan indah saat kau memperjuangkan segalanya untuk ku, dirinya dan mereka….

 

Meski kau lelah…

Meski langkahmu payah…

Meski penglihatanmu pecah…

Masih ku ingat saat kau marah kepadaku karna ku hanya terdiam melihatmu…

Masih ku ingat saat kau marah padaku…

Kala ku tak singgah ke istanamu…

hanya karna ku takut kau akan marah kepadaku…

 

Kini ku teringat kembali saat-saat itu…

Suasana yang selalu mengingatkanku…

pada setiap pesanmu untuk ku dimasa usia senjamu kala itu…

Pesan yang ku jadikan nasihat indah melalui diammu atas setiap kesalahan ku…

 

Kini, dua setengah tahun sudah aku dan bunda tak bersamamu…

Dua setengah tahun yang lalu juga ku ingat hembusan nafas terakhirmu…

Helaan nafas kelelahan melawan beratnya langkah hidup…

Helaan nafas kelelahan untuk sebuah kado indah harian keluargamu…

Masih ku ingat motor tua pemberianmu…

yang selalu mengantarku menuju masa depan hidupku…

 

Dua setangah tahun kau titpkan bunda pada ku dan saudara-saudari ku…

Dua setengah tahun mencoba memberikan kado indah dalam hidupnya…

Dua setenagh tahun mencoba memberikan yang terindah dalam hidupnya…

Dua setengah tahun mencoba tuk tidak menyusahkannya…

Dua setengah tahun mencurahkan pikiranku untuknya…

 

Seorang istri yang menemani dengan penuh ketulusan cinta di akhir hidupmu…

dalam sebuah ruang dengan pembaringan asing bagi dirimu…

Seorang istri yang begitu patuh dan takut pada dirimu…

Seorang istri yang mencoba membantu mu

mengurus semua mutiara hidupmu…

 

Sosok wanita yang kini mamasuki setengah abad hidupnya…

Yang selalu menjadi penyeimbang hidup dalam keluarga mu…

Wanita tua nan lembut yang melengkapi betapa kerasnya dirimu…

Wanita tua nan lincah yang melengkapi betapa payahnya langkahmu…

Wanita tua nan sabar yang melengkapi betapa besarnya amarahmu…

 

Kini di kesendiriannku di tempat yang bukan kampung halaman ku…

Kala tak ada lagi yang memarahi ku…

Menasehati dalam setiap langkahku…

Hanya memori indah bersamamu…

Yang menjadi pengingat dalam setiap langkah ku…

 

By ARH

 

Posted by on October 26, 2013 in Catatan Ku

1 Comment

Insan Terbaik

Waktu kan terus berjalan tanpa henti. Seiring dengan itu roda kehidupan pun akan terus bergerak tanpa bisa kita hentikan hingga Sang Pencipta menetapkan takdir-Nya. Semua makhluk yang Allah ciptakan terikat pada sebuah takdir yang Allah tuliskan dalam kitab Lauhul Mahfuzd-Nya. Allah telah menetapkan Waktu hidup kita (baca: kematian), jodoh dan rizki untuk kita.

 

Terkadang dalam hidup ini ada sebuah masa kita begitu jenuh hingga kita melupakan nikmat-Nya. Kita begitu takut dengan kemiskinan, kelaparan dan kehilangan harta kita. Mungkin pernah terucap mengapa kita harus bekerja mencari nafkah atau penghidupan padahal Allah telah menentukannya, sehingga menjadi sebuah sebab dan pembenaran bahwa kita tidak perlu memikirkan hidup kita dengan serius.

 

Benar  bahwa Allah  telah menentukan semuanya dalam kitab-Nya. Tapi coba  kita merenung sejenak kawan, bahwa Allah juga telah memberikan karunia-Nya yang Maha Dahsyat kepada kita semua.  Apa itu? Itu adalah akal, pikiran, jasad dan hati yang dengannya kita dapat menjadi pribadi yang sungguh luar biasa. Allah memberikan semua itu tidak akan pernah sia-sia tapi semua mempunyai maksud dan tujuannya. Maka jelas dengan akal, pikiran, jasad dan hati, Allah amanahkan kepada kita bumi ini untuk dimakmurkan. Tapi hati-hati kawan dengan itu juga kita dapat menjadi mahkluknya yang begitu durhaka kepada-Nya jika kita tidak menggunakannya sesuai dengan fitrah yang Allah ciptakan dengannya.

 

Allah ciptakan akal dan pikiran untuk kita dapat memikirkan dan mempelajari lebih dalam betapa dahsyatnya segala ciptaan-Nya. Allah ciptakan jasad ini untuk dapat digunakan bagi kita mencari rizkinya walaupun harus ke ujung dunia yang fana ini. Karna sesungguhnya tanpa jasad ini kita takkan mampu berbuat apa-apa. Selain itu dengan jasad yang Allah ciptakan juga kita dapat memanfaatkannya untuk menolong yang lemah dan menegakkan panji-panji kebenaran-Nya. Allah ciptakan hati yang darinya semua kita bermula. Maka hatilah yang sungguh akan memberikan cerminan nilai diri kita dihadapan Allah maupun hamba-hamba-Nya. Jika hati ini sudah dikotori oleh segala kemaksiatan yang semuanya bersumber dari nafsu jahat diri kita maka sungguh kita akan menjadi manusia yang lebih rendah bahkan lebih renndah dari makhluk hidup lainnya yang Ia ciptakan. Jika kita senantiasa mengisi hati kita dengan nafsu baik kita maka menjadi sebuah keniscayaan kita dapat menjadi sebaik-baik makhluk ciptaan-Nya.

 

So… ayo kawan manfaatkan segala potensi yang telah Allah berikan pada kita.

 

By ARH

 

Posted by on September 18, 2013 in Cahaya Hati

Leave a comment

Teringat Perjuangan

The Green Jacket

Ana Rindu…

ketika Tarbiyah penuh pengorbanan

Bukan sekedar berkumpul dengan teman

Atau mengisi waktu luang..

 

Ana Rindu…

Ketika Amanah itu datang…

Di saat nilai ulangan terkadang terjatuh

Tak menjadikan dakwah sebagai alasan

 

Ana Rindu…

Ketika Ukhuwah itu berdasarkan kecintaan pada Allah

Dan hati hati kami berkumpul dalam satu tujuan

Tidak memandang perbedaan,asal dan jabatan tapi

Yang ada adalah Ukhuwah yang berlandaskan akidah..

 

Ana Rindu…

Ketika Tantangan itu datang…

Dan di saat itu kami berjuang bersama menjawab tantangan itu

Kami menanggung segala beban di pundak kami

Untuk memperjuangkan islam di bawah panji Rohis SMA 21..

 

Ana Rindu…

Ketika Syuro memanggil…

Dan segala aktivitas pun kami tinggalkan

Untuk hadir ke dalam forum yang menyatukan visi dan misi kami..

 

Ana Rindu…

Ketika Liqo mempertemukan kami..

Dimana kami saling menasihati di dalamnya

Di kala salah satu dari kami bertambah ketakwaannya

Membuat pribadi ini dan lainnya terpacu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya

 

Posted by on September 9, 2013 in Suara Hati

Leave a comment

Keutamaan Shalat Shubuh Berjama’ah

Sholat ShubuhRasulullah SAW bersabda: “Seandainya manusia mengetahui apa yang ada di antara panggilan (adzan) dan shaf awal, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan mengundinya. Dan andai mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada ‘tahjir’, niscaya mereka akan tetap tinggal. Dan, jika mereka mengetahui apa yang ada pada waktu malam dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan cara merangkak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Berdasarkan sabda rasulullah tersebut mari bersama-sama khususnya kaum laki-laki untuk selalu menunaikan shalat berjamaah di masjid terutama pada waktu malam yaitu isya dan subuh.

Allahu akbar…!

 

Posted by on September 9, 2013 in Cahaya Hati

Leave a comment

Saudara yang Dipertemukan Kembali

Puji syukur ku panjatkan pada-Mu ya Rabb hari ini kau telah pertemukan kembali hamba dengan saudara hamba yang sudah lebih dari 1 semester tak bertemu. Lama rasanya kita tak berjumpa kawan kau pun kembali seperti dirimu yang pertama kali ku kenal di pertemuan kita kala itu. Kau tetap seperti dirimu yang selalu tersenyum dengan senyum ikhlasmu saudaraku. Beberapa kali aku dan saudara-saudarimu yang lain berkunjung ke rumahmu berharap bertemu dengan saudara yang dipersaudarakan 1 tahun yang lalu.

Ketika kami tiba dirumahmu, ketika itu juga kami bertemu dengan ayahmu yang kau cintai dan ia mengatakan bahwa engkau sedang dalam masa penyembuhan di sebuah pesantren tasawuf di Jakarta tepatnya di Cakung, Jakarta Timur. Sungguh kami begitu takut akan keadaanmu ketika engkau berlaku aneh saat itu…. ya saat kita pergi rihlah bersama di sebuah rumah singgah di Megamendung. Kau terlihat selalu terdiam seribu kata dan saat kau berbicara kami tidak mengerti apa yang ingin kau sampaikan pada kami. Dari saat itu kami pun semakin takut akan keadaanmu.

Akhirnya kami berfikir bahwa aku dan saudara-saudarimu telah banyak berbuat salah padamu sehingga engkau seperti itu. Tapi ternyata tidak sahabatku engkau tetap seperti itu hingga kita kembali ke Asrama tempat kita tinggal bersama di dalamnya. Setelah rihlah waktu itu, tidak lama ku mendengar banyak kabar bahwa kau sering sekali berperilaku aneh baik di Kelas ataupun di Asrama. Hingga suatu saat setelah shalat jum’at tepatnya, ku mendengar bahwa di masjid tempatku shalat jum’at saat itu ada seorang pemuda yang tidak sadarkan diri berontak memukul dinding kamar mandi masjid Al-Hurriyah. Ku telusuri berita itu dan ku dapatkan informasi bahwa pemuda itu adalah dirimu dan telah dibawa kembali ke Asrama oleh sahabatmu yang lain bersama kak Saeroni siang itu.

Saat ku tahu itu, ku bergegas pergi menuju Asrama selepas sholat jum’at siang itu. Akhirnya kutemui dirimu sudah penuh luka perban di tubuhmu. Aku pun lantas bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dirimu hingga engkau sampai seperti itu saudaraku. Ku bertanya kepada kak Roni bahwa kau berontak dan menghantam dinding yang ada disekitarmu tanpa sadar dengan mengeluakan kata-kata yang orang disekelilingmu tidak paham dengan ucapanmu. Kemudian dirimu mulai tenang setelah luka-lukamu diobati dengan lantunan istighfar yang keluar dari mulutmu sambil kau menenangkan dan menguasai dirimu kembali. Aku pun yang melihatnya mulai tenang dan berangkat kuliah siang itu. Tetapi beberapa jam kemudian ku mendapat kabar bahwa dirimu kembali diluar kendali saat ayahmu ingin membawamu pulang saudaraku. Kau tak sadarkan diri kembali dengan terus mencoba melawan guncanagan yang ada dalam dirimu. Sesaat mendengar berita itu aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu. Semua yang tejadi padamu kala itu benar-benar diluar logika dan nalar ku.

Beberapa hari kemudian aku bersama saudara-saudarimu pergi ke rumahmu berharap dapat bertemu denganmu untuk memberikan semangat padamu tapi ternyata keluargamu telah membawamu ke Jakarta. Lalu ayahmu mengatakan bahwa dirimu sedang diobati disebuah pesantren tasawuf dan ayahmu menuturkan bahwa dirimu telah diganggu oleh makhluk yang tak bertanggung jawab yang disebut dengan jin. Aku yang mendengar berita itu tersentak antara percaya dan tidak percaya atas apa yang ayahmu katakan. Maka yang bisa kulakukan saat itu bersama dengan saudara-saudarimu yang lain adalah mendo’akan mu segera lekas sembuh dan kembali berkumpul bersama kami.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan tak kunjung kami mendapatkan kabar berita tentang dirimu. Aku mencoba menelponmu tapi hasilnya tak ada jawaban satupun. Aku pun mencoba mengirim pesan kepadamu lewat ponselku dan lagi-lagi tak ada balasan darimu. Suatu saat ku buka akun facebook ku dan kulihat di kabar berita ada sebuah status bahwa kau baik-baik saja dalam proses pengobatanmu dan aku pun berkomentar di statusmu, namun lagi-lagi tak ada tanggapan darimu. Waktupun terus berjalan hingga suatu hari saudarimu Eva mengirim pesan ke semua saudaramu bahwa kau menitip salam untuk kami, senang rasanya hati kami mendengarnya. Aku mencoba menghubungimu kembali tapi lagi-lagi tak ada jawaban darimu. Maka ku minta Eva untuk terus menghubungimu. Sampai kemarin lusa aku dengar bahwa engkau akan datang ke kampus kita tercinta ini untuk hadir dalam acara wisuda kakak mu yang juga kuliah di kampus ini. Dan di malam harinya ku buka akun facebook ku dan tak disengaja ada sebuah aktivitas di akun facebook mu. Engkau memposting foto dirimu dan kulihat komentar dibawahnya ada teman mu yang lain yang juga menanyakan kabarmu lewat komentar dibawah itu. Dan engkaupun menjawabnya bahwa engkau ada di Bogor dan akan berkunjung ke kampus, maka aku pun berkomentar dan bertanya padamu kapan kau akan menemui kami saudara-saudarimu. Lalu dirimu meresponnya dan menjawab bahwa engkau akan berkunjung ke Asrama Etos, mendengar berita itu aku dan saudara-saudarimu yang lain sangat senang sekali. Dan malam itu juga kami membuat janji untuk berkumpul di GWW tempat kakakmu akan diwisuda dengan harapan dapat bertemu denganmu disana.

Keesokan harinya kami pun berkumpul walaupun belum semuanya berkumpul. Kami duduk di sisi luar sebelah kanan gedung itu untuk menemui dirimu. Akan tetapi engkau tak juga muncul, kami pun mencoba menelponmu namun tak ada jawaban dan kami pun mengirim pesan padamu dan tak ada balasan. Satu jam kami menunggumu kau tak juga muncul. Akhirnya beberapa dari kami pun pergi untuk kuliah dan menitip pesan padaku “Aman nanti kalo ketemu Amin kasih tau ya. nanti Aminnya di tahan saja sampai sore sampai kita kumpul semua” kira-kira seperti itulah pesan Ira kepada ku. Dari pesan itu betapa ku tahu bahwa kita begitu rindu padamu saudaraku. Aku mencoba kembali untuk mengubungimu namun tetap tidak ada jawaban, ku coba lagi… lagi… dan lagi… namun tetap saja tak ada jawaban. Hingga akhirnya ku kirim pesan padamu dengan harapan kau membaca pesan ku “Min dimana? temen-temen mau ketemu Amin nih…” seperti itulah pesan ku untukmu dan lagi-lagi tak ada balasan dari mu. Hingga pukul 12.00 saat itu aku dan Mirza tak juga dapat menemui mu. Akhirnya aku dan Mirza memutuskan untuk menemui kakak tingkat kami yang di wisuda hari itu sambil mencarimu, tapi setelah 1 jam lamanya masih tetap saja kami tak bertemu denganmu dan kami pun memutuskan untuk pergi dari tempat wisuda itu. Sebelum pergi ku kirim pesan ke salah satu saudarimu Lina bahwa aku tak dapat bertemu dengan mu dan ia membalas “Heemmm, kecewa berat” kira-kira seperti itulah jawabannya. Saat itu ku coba untuk tetap berhusnudzon pada diriku dengan mengucap dalam hatiku dan juga membalas jawaban saudarimu dengan mengatakan “Slow lah mungkin Allah ingin rencana pertemuan yang paling indah di episode lain dari hidup ini… masih berharap ketemu #menyusuriGWW”.  Saat itu ku coba sekali lagi menyusuri GWW dan tetap tak bertemu danganmu.

Setelah itu ku hentikan pencarianmu dan ku istirahat sejenak dalam sholat dzhuhur ku siang itu dan setelah itu ku kembali ke asrama istirahat di sisa siang hari itu. Saat ku terbangun dari tidurku kulihat handphone ku ternyata ada dua pesan yang masuk dan salah satunya ternyata dari dirimu dengan no hp yang tak terdaftar pada hp ku. Saat ku baca pesanmu “Ni Amin. Tadi Hp Amin mati. Tadi ada urusan keluarga. Jadi sekarang mau ke kampus ke etos buat ketemu kalian. Kumpul di asetra  ya”, membacanya ku sangat senang sekali dan ku teruskan pesan itu ke saudara-saudarimu yang lain. Dan akhirnya sore itu kau hadir di Asrama Etos Putra dengan senyum terbaik saat kita bertemu waktu di TPB dulu beserta wajah polosmu saudaraku. Sampai di asrama kau mulai bercerita tentang dirimu yang berjuang untuk lepas dari cobaan yang kau alami. Terbayang dalam benakku yang mendengar ceritamu sore itu campur aduk rasanya antara senang dapat bertemu lagi denganmu dengan rasa iba atas perjuanganmu melawan rasa sakit dalam dirimu yang tidak bisa ku lihat dengan mata kepalaku. Pertemuan sore itu sangat menyenagkan hatiku melihat dirimu mulai kembali seperti dirimu dulu walaupun engkau mengatakan belum sepenuhnya dirimu sembuh. Sore itu kau hadir bersama kakak perempuan mu dan kau sedang menunggunya, diwaktu yang bersamaan saudari-saudarimu ingin bertemu denganmu tapi tidak bisa. Kholi dan Ira mereka sakit kepala saat itu sehingga mereka tak bisa ke Asetra yang diguyur hujan sore itu, berbeda dengan Eva, ia ingin menemuimu namun kuliahnya belum selesai saat itu dan mengirim pesan kepada ku dengan meminta untuk kumpul ba’da maghrib besama dengan yang lainnya. Saat engkau hendak pergi pulang bersama kakak mu ku bilang kepadamu bahwa yang lain ingin bertemu dengan mu dan kukatakan bahwa Ira dan Kholi ingin bertemu dengan mu namun kepala mereka sakit dan tidak bisa pergi ke Asetra. Lalu kau pun sambil pergi mengantar kakakmu kau bilang padaku bahwa kau ingin mampir dulu ke Asrama Etos Putri menemui saudarimu yang rindu sore itu.

Setelah itu rasanya senang telah melihatmu kemarin lusa dengan keceriaan dan celotehanmu saat bertemu dengan ku. Namun ada beberapa saudaramu yang tak dapat bertemu dengan mu. Semoga yang tak dapat bertemu sore itu dapat bertemu dengan mu di hari-hari yang akan datang. Terima kasih saudaraku kau sudi tuk mengunjungi kami di Asrama tercinta tempat kita pernah tinggal dulu. Semoga engakau senantiasa diberikan kesehatan dan kesembuhan oleh Allah saudara ku, Ayatulloh Nur Amin dan semoga engakau tak melupakan kami saudara-saudarimu…. Syafakallah ^_^.

 

Posted by on September 5, 2013 in Catatan Ku

Leave a comment

Renungan Bagi Orang Tua

Setiap manusia pasti mempunyai cita-cita dan impian, sama halnya saya dan teman-teman. Di usia kita yang rata-rata 18 th, kita semua tahu dan sadar bahwa pribadi kita saat ini berbeda dengan pribadi kita 10 tahun yang lalu. Yang mana di usia kita saat ini kita sudah mulai membangun karakter dan prinsip hidup kita masing-masing.

Tapi apakah bijak para orang tua kita, bila di usia kita saat ini mereka masih melarang kita untuk menentukan karakter dan prinsip hidup kita masing-masing. Pertanyaannya: “Bagaimana kita bisa terjun kedalam masyarakat apabila di setiap kita mau memulai hidup kita sendiri orang tua selalu melarang kita untuk mengambil keputusan kita sendiri”. Bukankah setiap pilihan yang kita pilih melalui proses yang panjang.

“Bukankah orang tua melarang atas dasar rasa sayang?” Tidak, tapi yang justru terjadi adaalah membunuh karakter sang anak. Sebenarnya dengan melarang itu lebih banyak dampak negatifnya, misalnya membuat anak menjadi mudah untuk berbohong kepada orang tua.

Apakah para orang tua tidak tahu sebenarnya larangan yang mereka lakukan adalah bentuk ketakutan mereka terhadap anak mereka. Para orang tua takut jika anak mereka gagal. Tapi kalau alasan para orang melarang anak mereka karena takut anak mereka gagal itu salah besar. Bukankah proses dalam menuju sukses itu pasti ada sebuah peristiwa yaitu gagal. Lalu “mengapa para orang tua harus takut jika anaknya gagal?” Padahal dari kegagalan itu sang anak akan belajar lagi bagaimana caranya agar tidak gagal lagi dalam menghadapi masalah yang sama, hingga akhirnya mereka bisa menggapai kesuksesan mereka sendiri.

Menurut saya akan lebih bijak jika orang tua lebih kepada memberikan arahan dan pilihan-pilihan untuk anak mereka dan memberikan keputusan sepenuhnya kepada anak mereka masing-masing dari pada melarang setiap keputusan mereka.

Orang tua hanya boleh melarang anak mereka apabila keputusan yang dipilih anak mereka sudah tidak sesuai lagi dengan ajaran agama.

 

Posted by on September 4, 2013 in Suara Hati

Leave a comment

Surat untuk Sahabat ku Etoser 48

Assalaamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…..

Sebelumnya saya ingin meminta maaf jika dalam 1 tahun perjalanan persaudaraan ini sering terlontar kata-kata ataupun tindakan yang mengoreskan luka di hati akhi wa ukhti semua. Sesungguhnya tidak ada maksud hati tuk berbuat seperti itu. Dan terima kasih untuk saudara-saudara ku yang  dengan sabar menghadapi segala tindak khilaf ku dan selalu mengingatkan ku. Saya harap nasihat-nasihat itu selalu hadir menjadi alarm pengingat diri ketika ada diantara saudara-saudaraku yang tersakiti, dan semoga itu menjadi pelecut semangat untuk terus berubah menjadi insan yang lebih baik lagi.

Saudara-saudaraku yang sungguh ku cintai karna Allah, satu tahun sudah perjalanan ukhuwah ini ku jalani bersama kalian. Begitu nikmat rasanya berada didalamnya dengan segala keramahan dan kebaikan tutur yang akhi wa ukhti ucapkan pada diri ini yang fakir. Sesungguhnya diri ini sangat senang sekali ketika melihat saudara-saudaraku bahagia. Senang ketika melihat saudaraku telah sukses menggapai apa yang ia cita-citakan dan ia impi-impikan. Diri ini begitu sangat senang sekali ketika dapat melihat setiap cerca mimpi akhi wa ukhti semua. Senang ketika melihat kalian telah menvisualisasikan mimpi kalian tuk pergi keluar negeri, menjadi seorang pengusaha, mahasiswa berprestasi atau cita-cita tuk terus belajar hingga ke negeri orang.

Sungguh begitu senang hati ini saudara-saudaraku melihat setiap tingkah dan celotehan kalian kepada ku ataupun pada yang lain. Semoga itu dapat terus ku dengar hingga akhir persaudaraan ini. Teruslah ingatkan diri ini ketika kau melihat ada yang tidak bermanfaat ataupun tidak baik bagi diri ini dalam alur cerita persaudaraan ini.

Sebuah ucapan doa untuk saudara-saudaraku etoser 48 “Semoga engkau dapat mencapai cita-cita mu hingga kau pun kehabisan tinta pena mu tuk menggoreskan setiap impian-impian mu karena kau telah menggapai semua mimpi-mimpimu. Saudaraku teruslah…dan teruslah bergerak menebar asa menggapai cita sampai kau pun terlelah di hadapan Rabb mu dengan segala kebermanfaatan dirimu atas orang-orang yang ada di sekelilingmu. Dan semoga Allah Ridho atas apa yang engkau dan aku usahakan. Aamiin….”

Terima kasih atas kesediaannya mau menjadi saudaraku dan terima kasih atas setiap pengingatan serta nasihat yang kau berikan pada ku. Semoga di tahun baru ini menghadirkan semangat-semangat baru untuk terus menebar manfaat dan selamat berjuang saudaraku untuk kejayaan ummat ini. Selamat berjuang di panggung peradaban ummat islam.

Selamat berjuang para TOENAS pembangun peradaban. Salam semangat dan cinta dari saudaramu yang mencintaimu karna Allah….

Ttd,

 

Abdul Rachman

 

Posted by on September 4, 2013 in Suara Hati

Leave a comment

Jangan Marah dan Jangan Bersedih Saat Kebaikan Mu Dicampakkan

Manusia adalah makhluk Allah SWT yang sangat emosional. Tingkat emosional manusia selalu berubah-ubah sama seperti keimanan manusia selalu berubah-ubah. Terkadang manusia senang, gembira, bahagia dan kadang-kadang manusia pun sangat mudah sekali untuk marah dan bersedih. Bahkan saat manusia marah mereka bisa berbuat apapun di luar kuasa kita sebagai manusia.

Seseorang akan merasa sangat marah saat sesuatu yang mereka inginkan tidak tercapai. Dan manusia bisa sangat marah sekali saat kebaikan mereka diabaikan, dicampakkan atau bahkan dibalas dengan sebuah penghianatan.Ini semua berkaitan dengan tabiat manusia yang selalu ingkar, membangkang dan meremehkan sesuatu. Allah SWT telah menyatakan hal ini dalam firman-Nya :

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata” (QS.Yaasin ; 77)

“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari(nikmat Allah)” (QS. Ibrahim ; 34)

“Ketahuilah! sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.”(QS. Al-Alaq ; 6)

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”(QS. An-Nahl ; 83)

Coba kita renungkan, jika kepada Allah SWT yang telah memberikan kehidupan yang setiap saat kita rasakan dengan berbagai nikmat yang begitu banyak kita tetap ingkar kepada-Nya, maka bagaimana dengan kita sebagai manusia makhluk ciptaan Allah yang tak dapat memberi apa-apa? Pasti kita akan sangat marah sekali dan sedih atas perbuatan manusia itu.

Bila kepada para rasul yang membawa petunjuk dan cahaya yang terang benderang manusia juga mendustakan dan bahkan memusuhinya serta ingin membununya , maka bagaimana dengan kita yang jasanya tidak seberapa dibandingkan dengan para rasul Allah?

Rasulullah saw tidak pernah meminta upah atas jasa perjuangan beliau dalam menyebarluaskan islam itu sendiri. Beliau pun tak pernah mengharapkan harta benda seorang pun bahkan sahabatnya sekalipun, meski hanya satu dirham untuk kepentingan beliau atas jasa-jasa beliau terhadap kemajuan islam. Rasulullah juga tidak pernah mengharapkan imbalan atau ucapan terima kasih dari kaumnya. Beliau hanya mengharapkan ridho Allah SWT.

Sungguh amatlah sulit bagi kita untuk membuat orang lain suka dan senang kepada kita, senang dengan kehadiran kita dan senang saat bertemu  dan berpapasan dengan kita. Membuat manusia ridho kepada kita amatlah sulit. kebanyakan manusia suka ingkar, suka munafik dan berpura-pura. Jika manusia memuji atau menyanjung kebanyakan pujian mereka tidaklah tulus. Jika manusia membalas jasa kebanyakan tidak ikhlas.

Maka anda tak perlu heran bila anda mendapati mereka mengingkari kebaikan yang anda lakukan, melupakan jasa yang anda berikan, mengabaikan bakti yang telah anda persembahkan, atau mencampakkan budi baik yang anda tunjukkan. Anda tak perlu terkejut saat anda menghadiahkan sebuah pena kepada seseorang dan kemudian anda mendapati orang lain menggunakan pena anda untuk menuliskan cemoohan kepada anda.

Coba anda buka  kembali catatan dunia ini tentang perjalanan hidup  ini. Dalam sebuah kisah diceritakan seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik memberinya makan, minum dan pakaian. Lalu ia mendiddiknya hingga menjadi orang yang sukses. Ia rela tidak tidur demi anaknya saat masih kecil, ia rela untuk tidak makan asalkan anaknya kenyang. Bahkan ia mau bersusah payah agar anaknya bahagia.

Tapi apa yang di dapatkan dari kebaikan dan pengorbanan sang ayah itu terhadap anaknya? Ternyata saat sang anak itu tumbuh dewasa, anak itu tumbuh bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong di depan orang tuanya. Ia tak hanya berani  menghina, tapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak dan durhaka.

Apakah ayah tersebut perlu menunggu sang anak itu berubah dan kemudian membalas budi sang ayah dan menjadi anak yang sholeh? tidak, karena itu hanya akan membuat jiwa dan raga sang ayah lelah dan sakit. Kita tak perlu manaruh harap kepada kebaikan mereka yang mencampakkan kebaikan kita. Lupakan saja bakti yang kita persembahkan kepada mereka. Hadapi itu semua dengan kepala dingin. Sekiranya mereka memungkiri kenikmatan dan pengorbanan yang anda berikan, maka janganlah bersedih. Sebab anda telah mendapatkan pahala dari Allah SWT. Bila anda telah menunaikan tugas anda dan merealisasikan apa yang telah di amanah kepada anda, maka janganlah resah dengan penilaian orang. Sebab Allah telah memberikan nilai pahala terhadap usaha dan kerja keras anda.

Ingat! Hanya Allah yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada kita atas segala perbuatan kita. Yang sanggup memberi dan membalas kebaikan itu hanya Allah SWT bukan keluarga, sahabat, tetangga, atau orang lain di sekitar kita.

Berbuatlah sesuatu hanya demi Allah semata untuk mengharapkan ridho-Nya, maka kita akan dapat menguasai keadaan, tidak akan pernah terusik oleh kebencian mereka dan tak pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka.

“Jika anda meminta pertolongan, maka memintalah hanya kepada Allah SWT. Ketahuilah seandainya umat berkumpul untuk memberi manfaat kepada anda dengan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah untuk anda, maka mereka tak kan mampu memberikan apa-apa. Dan seandainya mereka berkumpul untuk membahayakan anda dengan sesuatu yang tidak ditetapkan Allah untuk  anda , maka mereka pun tidak akan mampu melakukannya.”

 

“DO THE BEST FOR YOUR LIFE”

 

Posted by on September 4, 2013 in Cahaya Hati

Leave a comment

Permohonan Seorang Anak

Ayah….

Engkaulah sosok laki-laki yang selalu ku takuti

Pandanganmu dan tatapan matamu padaku yang tajam

Membuat aku tertunduk dan terdiam membisu

 

Ayah….

Saat ku berbuat salah

Marahmu adalah kasih sayang

Ucapan yang keluar dari mulutmu adalah nasihat

Dan tiap sindiranmu adalah pengingat bagiku

 

Ayah….

Engkaulah laki-laki yang tidak pernah lelah

Engkau bekerja dengan penuh ketulusan

Mencari karunia sang ilahi rabbi

 

Ayah….

Meski tubuh mu lelah dan merintih kesakitan

Bahkan engkau sendiri tak mampu tuk menahan rasa itu

Engkau tetap berjuang untuk mendapatkan karunia-Nya

 

Ayah….

Andai anakmu tahu betapa lelahnya tubuhmu

Dan betapa sakitnya rasa itu

Pasti anakmu tak akan pernah mengeluh padamu

Dan meminta suatu apapun padamu

Tapi hanyalah sebuah permohonan hati seorang anak

 

Wahai ayah biarkanlah anakmu ini memijat tubuhmu

Memijat tubuhmu lelah

Dan biarkan tangan ini membasuh

Membasuh wajahmu yang penuh dengan debu jalanan

Wahai ayah izinkan anakmu mencium keningmu

Hingga hilang rasa lelahmu

 

Ayah….

Tapi mengapa engkau tak pernah mengatakannya

Engkau pulang dengan penuh kecerian

Dengan harapan keluargamu senang

Tapi mengapa kau tak katakan sekalipun pada anak dan istrimu

Engkau gantikan rasa sakit dan lelahmu dengan senyuman

 

Ayah….

Tubuhmu pun sudah tak sekuat dan segagah dulu

Tapi engkau tetap saja pada pendirianmu

Ingin diri ini meringankan bebanmu

Tapi engkau tetap teguh pada pendirianmu

Tiap kali diri ini ingin membantu

Membantu meringankan beban yang kau pikul di pundakmu

Tapi mengapa saat itu juga diri ini membuatmu marah

 

Ayah….

Mengapa engkau selalu marah

Selalu marah saat diri ini ingin membantumu

Membantu meringankan beban di pundakmu

Ingin rasanya memindahkan beban itu kepundak ku

Agar diri ini dapat merasakan sakitnya rasa itu

Tapi mengapa engkau tak pernah mau tuk ku bantu

 

Ayah….

Saat ini kau telah pergi

Pergi meninggalkan anak dan istrimu

Yang begitu kau cintai dan sayangi

 

Ayah….

Andai diri ini tahu engkau akan meninggalkan ku

Tak sedetik pun diri ini akan berpaling darimu

Tapi mengapa aku tak dapat hadir

Ketika engkau membutuhkan diriku di sisa waktumu

Untuk membimbingmu mengucapkan “laailaahailallah muhammadur rasulullah”

 

Ayah….

Mengapa diri ini begitu sombong padamu

Begitu sombong sampai tidak pernah mengucapkan

“Ayah aku sangat menyayangimu ayah”

 

Ayah….

Andai engkau mendengarnya

Engkau pastikan tersenyum bahagia

Dan senyum itu pasti menjadi senyum terakhirmu padaku

 

Ya Allah….

Mungkin diri ini tidak pernah bersyukur

Bersyukur atas semua nikmat yang kau berikan

Karena diri ini tidak pernah hadir

Ketika ia membutuhkan ku

Tapi mengapa ia selalu hadir

Ketika aku membutuhkan kehadirannya di sampingku

 

Ya Allah….

Saat ini hanya do’a yang dapat ku berikan untuknya

 

Ya Allah…. Ya Rahman…. Ya Rahim….

Terimalah segala amal perbuatannya

Sebagai wujud ibadah kepada-Mu

Dan ampunkanlah segala amal buruknya

Dan selamatkanlah ia dari siksa kubur-Mu

Serta mudahkanlah jalannya menuju-Mu

 

Ya Allah….

Itulah seucap do’a yang ku panjatkan untuknya

Kabulkanlah do’a hambamu yang lemah ini Ya Allah

Karena Engkaulah Rabb ku Yang Maha Pengampun

 

Ayah….

Kini kau titipkan Bunda padaku

Maka izinkan aku membuatnya bahagia

Di hari tuanya tanpa kehadiranmu

Dan menemaninya saat tanpa hadirmu di sampingnya

 

Ayah….

Terima kasih engkau telah menjaga ku dan Bunda

Kini waktu ku untuk menggantikan peranmu

Untuk menjaganya

 

Puisi ini saya persembahkan untuk para ayah, tulang punggung keluarga yang selalu mencurahkan jiwa dan raganya untuk membahagiakan keluarganya yang mereka cintai.

 

sahabat setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati janganlah kau sia-siakan waktu mu, jagalah orang tua mu di saat mereka masih bisa melihatmu dan mendampingimu saat kau tumbuh dan berkembang. Janganlah kau sia-siakan mereka yang selalu menyayangimu tanpa kau memintanya. Buatlah hati mereka bahagia dengan menjadi anak yang shaleh dan shalehah seperti yang di dambakan para orang tua terhadap anak-anak mereka. Ingat! Ridho orang tua adalah ridhonya Allah dan murka orang tua adalah murkanya Allah.Jadi lalukanlah yang terbaik untuk mereka jangan sampai kita menyesal di saat mereka pergi meninggalkan kita.

 

 

 

Posted by on September 3, 2013 in Suara Hati

Leave a comment